Jumat, 08 Maret 2019


MEKANISME REAKSI BERSAING ANTARA SN2 DAN E1
Pada kali ini, kita akan membahas persaingan antara reaksi SN2 dan E2, yang mana reaksi ini merupakan reaksi eliminasi dan substitusi, pada reaksi ini yang perlu kita ketuahui terlebih dahulu yaitum pada reaksi substitusi menghasilkan alkohol atau eter dan pada reaksi eliminasi menghasilkan alkena.
Reaksi SN2 dan E2 dapat terjadi pada saat kondisi yang sama, yaitu pelarutnya yang bersifat polar, dan basa yang sangat kuat, sehingga pada reaksi ini, mengikuti jalur mekanisme SN2 yang seringkali bersaing dengan reaksi E2. Pada reaksi bersaing ini, reaski SN2 lebih dominan mudah terjadi pada E2 karena pada kondisi dan keadaan reaksinya yang kurang basa. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kebasaan suatu reaksi, maka semakin besar kemungkina eliminasi yang terjadi.

Apabila nukleofil (basa) yang menyerang atom H-β, maka yang terjadi reaksi eliminasi, sedangkan apabila nukleofil (basa) yang menyerang atomm karbon yang mengikat gugus pergi, maka yang terjadi adalah reaksi substitusi.

Selain tingkan kebasaan, yang mempengaruhi reaksi SN2 dan E2 dapat dipengaruhi oleh 3 aspek, yaitu:
1.      Struktur alkil halida (substrat)
Pengaruh substrat (alkil halida) terhadap reaksi bersaing antara SN2 dan E2, yaitu:
o   Dengan jumlah alkil halida yang bersubstituen banyak pada kabon α dapat memeberikan hasil utama yaitu reaksi eliminasi. Sebagai penggantinya, alkil halida tersier memberikan lebih banyak eliminasi daripada alkil halida sekunder, dan yang akan menghasilkan lebih banyak lagi alkil halida primer.
o   Alkil halida dengan jumlah yang bersubstituen terbanyak daripada karbon-β memberikan hasil utama reaksi eliminasi
o   Alkil halida yang tidak memiliki hidrogen β dan tidak dapat mengalami eliminasi β
2.      Struktur basa
Pengaruh struktur basa terhadap kompetisi reaksi SN2 dan E2, yaitu:
o   Dalam perbandingan basa alkoksida dnegan kekuatan yang sama, masa alkoksida tersier seperti tersier butoksida memberikan hasil eliminasi terbesar daripada alkoksida primer
o   Basa yang lebih lemah adalah nukleofil yang bagis dalam memberikan hasil sustitusi dominan.
3.      Temperatur
Pada saat temperatur dinaikan maka laju reaksi substitusi dan eliminasi juga akan naik. Namun, pada kenaikan laju reaksi eliminasi lebih besar karena reaksi eliminasi biasanya memiliki energi aktivasi yang lebih tinggi, dan temperatur atau suhu tinggi juga memungkinkan lebihbanyak molekul yang sanggup untuk mencapai keadaan transisi yaitu eliminasi.
DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, J & Fessenden, S. 1995. Organic chemistry 3th edition. Terjemahan. Jakarta: Erlangga
Loundon, M. 2009. Organic Chemistry 5th edition. Colorado: Roberts & Company

PERMASALAHAN:
1.      Mengapa pada reaksi bersaing ini, reaksi SN2 lebih gampang terjadi dibandingkan reaksi E2?
2.      Faktor apa saja yang memepengaruhi reaksi SN2 dan E2 bersaing?
3.      Mengapa jika suhu dinaikkan, dapat memepercepat laju reaksi pada reaksi substitusi dan eliminasi?

Terimakasih, semoga bermanfaatJ

Jumat, 01 Maret 2019


MEKANISME REAKSI BERSAING SUBSTITUSI SN1 DAN ELIMINASI E1
       Reaksi substitusi dapat berhasil melalui mekanisme reaksi SN1, namun eliminasi juga berlaku hanya untuk mekanisme reaksi E1 ataupun E2. Dengan menggunakan nukleofili lemah dan pelarut yang polar, mekanisme reaksi E1 dan SN1 adalah reaksi bersaing. Contohnya:

Apabila kita menggunakan nukleofili yang kuat, dan bukan yang lemah, dan apabila kita menggunakan pelarut yang kurang polar, mekanisme yang dominan terjadi adalah E2. Jadi, dengan OH- atau CN- yaitu nukleofili, hanya eliminasilah yang akan terjadi, dan yang akan menjadi produk satu satunya adalah alkena.

Karbon tersiser pada reaksi diatas secara keruangan terlalu sesak untuk serangan SN2, maka reaksi substitusi tidak bersaing dengan eliminasi.

Tahap penentu dari reaksi SN1 maupun E1 yaitu terdapat pada tahap mekanistik yang pertama, yang biasa disebut dengan pembentukan ion karbonium. Pada tahap mekanistik pertama belum terjadi reaksi persaingan. Namun reaksi persaingan mulai terlihat dari alternatif mekanistik yang mengikuti tahap pertamanya.
Reaksi E1 dan SN1 bergantung pada tingkat struktur substrat yang saling tidak berlawanan, namun terdiri dari jenis yang sama. Reaksi SN1 dan E1 berlangsung dengan sangat lambat yang menggunakan senyawa hetero alkil primer, maka biasanya hanya melalui reaksi bimolekuler yang sesuai atau menggunakan SN2 atau E2. Namun berbeda dengan reaksi ini, karena senyawa yang digunakan adalah hetero alkil tersier, atau reaksi unimolekuler atau biasa disebut dengan reaksi SN1 dan E1, berlangsung lebih cepat dibandingkan reaksi bimolekular atau SN2 dan E2
DAFTAR PUSTAKA
Hart, Harold. 2003. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Pertanyaan:
1.      Dalam reaksi SN1 dan E1 mempunyai persamaan yaitu menggunakan senyawa hetero alkil tersier atau yang biasa disebut dengan reaksi unimolekuler. Namun, walaupun menggunakan senyawa yang sama, reaksi kedua ini memiliki perbedaan, coba saudara jelaskan.
2.      Adakah faktor lain yang dapat mempercepat laju reaksi SN1 dan E1? Jelaskan
3.      Mengapa reaksi SN1 dan E1 disebut reaksi bersaing?

Kamis, 21 Februari 2019


REAKSI ELIMINASI E1
REAKSI E1 (eliminasi unimolekuler)
            Suatu karbokation adalah suatu reaksi yang tak stabil dan memiliki energi yang tinggi, yang akan bereaksi dengan lebih lanjut. Salah satu cara yang karbokation untuk mencapai keadaan stabil adalah dengan bereaksi dengan suatu nuleofil. Hal ini merupakan suatu mekanisme reaksi SN1. Namun ada suatu cara cepat/ relatif yaitu karbokation itu dapat memberikan sebuah proton kepada senyawa yang bersifat basa yang biasa terjadi dalam suatu reaksi eliminasi,hal ini dapat disebut dengan E1, menjadi sebuah alkena.
Sama halnya dengan reaksi eliminasi (E2) yang memiliki mekanisme reaksi yang mirip dengan SN2, maka mekanismereaksi E1 ini pun mirip dengan reaksi SN1.

Tahap pertama,  yaitu ionisasi alkil halida. Reaksi ini berlangsung dengan lambat, yang menjadi tahap penentu adalah laju dari reaksi keseluruhan. Seperti reaksi SN1, suatu reaksi E1 yang khas menunjukkan kinetika orde-pertamanya, dengan laju reaksi yang bergantung hanya pada alkil halidanya saja. Karena hal ini melibatkan satu pereaksi dalam keadaan transisi yaitu tahap penentu laju, reaksi E1 adalah  unimolekuler seperti reaksi SN1.


Tahap kedua, yaitu reaksi eliminasi, yang mana basa dapat merebut sebuah proton dari sebuah karbon yang terletak berdampingan dengan karbon yang bersifat positif. Elektron ikatan sigma karbonhidrogen ini bergeser ke arah yang bermuatan positif, karbon itu mengalami rehibridisasi dari keadaan sp3 ke keadaan sp2 maka terbentuklah sebuah alkena.

 Sebagai contoh, reaksi yang dimiliki 2-kloro-2-metilpropana, yang dapat digambarkan sebagai berikut!

            Karna reaksi E1 mirip sepert SN1, yang berlangsung lewat saat antara karbokation, maka tak mengherankan bahwa alkil halida tersier bereaksi lebih cepat dari pada alkil halida yang lain. Reaksi E1 alkil halida yang berlangsung pada kondisi yang sama seperti reaksi SN1 (pelarut polar, basa sangat lemah, dan sebagainya); oleh karena itu reaski E1 dan SN1 itu adalah reaksi bersaing. Produk SN1 biasaya menang  dibandingkan dengan reaksi E1 pada saat kondisi yang ringan yang terjadi perbandingan reaksi-reaksi karbokation pada alkil halida ini. Dari segi ini, E1 dianggap relatif tidak penting.
Reaktivitas SN1,  SN2, E1, dan E2
   1 .      Alkil halida primer, reaksi SN2 dapat berlangsung dengan baik jika menggunakan nukleofilik seperti RS-, I-, CN-, NH3, atau Br-. Reaksi eliminasi E2 dapat berlangsung jika menggunakan basa kuat seperti Butoksida.
  2.      Alkil halida sekunder, pada reaksi ini  terjadi reaksi persaingan antara SN2 dan E2 dan akan menghasilkan produk campuran. Apabila memakai basa lemah dengan pelarut tak berproton yang polarn maka hasil reaksinya SN2,  namun jika menggunakan basa kuat seperti CH3CH2O-, OH-, atau NH2-, maka reaksi yang terjadi lebih dominan adalah E2. Sebagai contoh, 2-bromopropana akan meenghasilkan produk yang berbeda jika direaksikan dengan ion etoksida dan dengan ion asetat (basa lemah, SN2). Dapat ditunjukkan melalui gambar berikut:


3.      Alkil halida tersier. Eliminasi E2 berlangsung bila menggunakan OH atau etoksi (RO-). 2-bromo-2-metilpropana akan menghasilkan produk 97% bila menggunakan etoksida dalam etanol. Namun demikian, akan didapat hasil yang berbeda jauh jika menggunakan kondisi bukan basa (pemanasan dalam etanol), dimana produknya adalah campuran SN1 dan E1.
Eliminasi ion halida dari suatu alkil halida akan menghasilkan ion karbonium yang menentukan keceapatan  reaksi akan mengeliminasi proton  membentuk ikatan  rangkap. Ion karbonium yang terbentuk selama reaksi akan mengalami penataan ulang membenuk ion kabonium yang lebih stabil melalui perpindahan atom hidrogen atau gugus alkil.


Daftar pustaka:
Fessenden, Ralp dan Fessenden, Joan. 1982. Kimia Organik Edisi Ketiga. Jakarta: Erlangga
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta:Erlangga
Riswiyanto. 2012. Kimia Organik Edisi Kedua. Jakarta:Erlangga
Permasalahan:
1.      Alkil halida tersier bereaksi lebih cepat dari pada alkil halida yang lain. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
2.      Mengapa reaksi E1 dan SN1 itu adalah reaksi bersaing? Sementara reaksi E1 alkil halida berlangsung pada kondisi yang sama?
3.      mengapa suatu reaksi E1 pada  orde-pertama, laju reaksinya hanya bergantung hanya pada alkil halidanya saja?

Terimakasih J

Sabtu, 16 Februari 2019


REAKSI ELIMINASI
            Bila suatu alkil halida diolah dengan suatu basa kuat, dapat terjadi suatu reaksi eliminasi. Dalam reaksi ini sebuah molekul kehilangan atom-atom atau ion-ion dalam strukturnya. Produk organik suatu alkil halida adalah suatu alkena. Dalam tipe reaksi ini, unsur H dan X keluar dari dalam alkil halida; oleh karena itu reaksi ini juga disebut reaksi dehidrohalogenasi (awalan de- berarti “minus” atau “hilangnya”).



REAKSI ELIMINASI E2
            Reaksi eliminasi alkil halida yang paling berguna ialah reaksi E2 (eliminasi bimolekuler). Reaksi E2 alkil halida cenderung dominan bila digunakan basa kuat, seperti OH dan OR, dan temperatur tinggi. Secara khas reaksi E2 dilaksanakan dengan memanaskan alkil halida dengan K+-OH atau Na+ -OCH2CH3 dalam etanol.

            Reaksi E2 berjalan tidak lewat suatu karbokation sebagai zat-antara, melainkan berupa reaksi serempak (concered reaction) yakni  terjadi pada satu tahap, sama seperti reaksi SN2.

1.      Basa membentuk ikatan dengan hidrogen
2.      Elektron elektron C-H membentuk ikatan pi
3.      Brom bersama sepasang elektronnya meninggalkan ikatan sigma C-Br
Persamaan diatas menunjukkan mekanisme, dengan anak-panah bengkok menyatakan “pendorongan elektron” (electron-pushing). Struktur keadaan-transisi dalam reaksi satu tahap ini adalah:

            Dalam reaksi E2, seperti dalam reaksi E1, alkil halida tersier bereaksi paling cepat dan alkil halida primer paling lambat. (bila diolah dengan suatu basa, alkil halida primer biasanya begitu mudah bereaksi substitusi, sehingga hanya sedikit alkena terbentuk.


STREOKIMIA SUATU REAKSI E2
            Dalam keadaan transisi suatu eliminasi E2, basa yang menyerang dan gugus yang pergi umumya sejauh mungkin, atau anti. Karena inilah maka eliminasi E2 seringkali dirujuk sebagai anti-eliminasi.


Ciri yang menarik mengenai anti-eliminasi adalah bahwa peletakan anti dari H dan Br yang akan dibuang menentukan streokimia alkena sebagai produk. Untuk memahami terjadinya hal ini, perhatikan reaksi E2 dari beberapa halida streoisomerik. Senyawa 1-bromo-1,2-difenilpropana mempunyai dua atom karbon kiral (karbon 1 dan 2) dan empat streoisomer.


Karena terdapat hanya satu hidrogen β dalam halida awal, maka streoisomer yang manapun akan menghasilkan C6H5(CH3)C=CHC6H5. Namun dalam produk ini dapat terjadi keisomeran geometrik.


Bila atau (1R,2R)-1-bromo-1,2-difenilpropana ataupun (1S,2S)-enantiomernya menjalani reaksi E2, akan terbentuk (Z)-alkena secara ekslusif; tak akan terbentuk (E)-alkena.


Mengapa hanya terbentuk produk (Z) dan tak ada produk (E)? Karena hanya ada satu konformasi dari masing-masing enantiomer ini dimana Br dan hidrogen beta berposisi anti, baik dari enantiomer ini pelurusan anti antara H dan Br akan menaruh gugus-gugus fenil pada satu sisi dari molekul, sehingga dihasilkan (Z)-alkena. Seandainya eliminasi dapat terjadi tanpa memperdulikan konformasi enantiomer-enantiomer ini, pastilah akan dijumpai pula (E)-alkena.


Keadaannya tepat terbalik pada enantiomer-enantiomer (1R,2S) atau (1S,2R). Masing-masing enantiomer ini justru menghasilkan (E)-alkena. Alasannya sekalo lagi ialah hanya ada satu konformasi dalam mana Br dan satu-satunya H beta itu berposisi anti satu terhadap yang lain. Dalam konformasi ini, gugus fenil berada dalam sisi yang berlawanan.


Suatu reaksi ini dimana streoisomer yang berlainan dari pereaksi menghasikan produk yang secara streoisomer berlainan, disebut reaksi streospesifik. Reaksi E2 adalah suatu contoh reaksi streospesifik.
Halosikloalkana seperti klorosikloheksana dapat juga bereaksi dengan E2. Dalam kasus kasus ini, konformasi cincin memainkan peran penting dalam jalannya reaksi. Agar beposisi anti dalam suatu cincin sikloheksana, gugus pergi seperti klor dan suatu hidrogen β, haruslah 1,2 trans dan diaksial. Tak ada konformasi lain yang meletakkan H dan Cl ini anri satu terhadap yang lain. Meskipun konformasi ini bukan konformasi favorit, beberapa persen molekul halosikloalkana berada dalam konformasi ini pada suatu saat dan dengan demikian dapat mengalami eliminasi.
Sumber:
Fessenden,Fessenden.1989. kimia organik. Jakarta: Erlangga

Permasalahan:
11.   Reaksi E2 alkil halida cenderung dominan bila digunakan basa kuat, apakah reaksi eliminasi E2 juga berlaku untuk basa lemah?
 2.  Dalam reaksi E2, seperti dalam reaksi E1, alkil halida tersier bereaksi paling cepat dan alkil halida primer paling lambat. Mengapa hal ini dapat terjadi?
 3.   Mengapa hanya terbentuk produk (Z) dan tak ada produk (E) pada reaksi ini?

TERIMAKASIH DAN SEMOGA BERMANFAAT

Sabtu, 09 Februari 2019


MEKANISME  REAKSI SUBSTITUSI NUKLEOFILIK SN1
            Oleh karena reaksi SN1 dari alkil halida tersier adalah dengan pelarut (misalnya air atau alkohol), maka reaksi ini disebut reaksi solvolisis (dari kata “solvent” dan kata Yunani lysis yang berarti pembebasan-loosening atau pemecahan).
            Reaksi alkil halida dengan jalan SN1 hanya terjadi dalam keadaan nukleofil lemah karena nukleofil dengan sifat basa yang lebih kuat akan menghilangkan reaksi yang dihasilkan adalah alkena. Nukleofil lemah pun akan mengalami eliminasi.
      A.    KARAKTERISTIK REAKSI SN1
Reaksi SN1 berlawanan dengan reaksi SN2. Reaksi SN1 menyukai substrat yang lebih rapat streik seperti (CH3)3CBr dengan nukleofilik netral (H2O). Reaksi SN1 berlangsung dengan cepat, sedangkan reaksi SN2 berlangsung sangat lambat. Urutan kecepatan reaksi adalah sebagai berikut:
1        .      Kinetika reaksi SN1
Kecepatan reaksi antara t-butil klorida dengan H2O ternyata hanya bergantung pada konsentrasi substratnya saja dan tidak oleh konsentrasi nukleofilik. Reaksi semacam ini disebut reaksi orde satu.
Kecepatan reaksi = kecepatan berkurangnya alkil halida
                             = k x [RX]
Berikut ini adalah mekanisme reaksi SN1 dari 2-bromo-2-metil propana dengan H2O. Rate limiting step (Tahap yang paling lambat), yaitu pembentukan karbokation.

Reaksi SN1 melalui karbokation memiliki konsekuensi streokimia yang berbeda, dimana karbokation mempunyai bentuk planar dan hibridisasi sp2. Produk reaksinya adalah campuran rasemat yang tidak aktif optik. Sebagai contoh, reaksi antara (R)-6-kloro-2,6-dimetiloktana dengan H2O/C2H5OH menghasilkan campuran rasemat (40% retensi dan 60% inversi).

Berikut ini adalah gambaran streokimia reaksi SN1 substrat yang khiral.

2   .      Faktor yang menentukan reaksi SN1
reaksi substitusi pada SN1 juga dipengaruhi oleh pelarut, gugus pergi, substrat, dan sifat nukleofilik. Kecepatan yang paling lambat (rate limiting step, SN1) dari reaksi ini adalah pembentukan ion karbonium. Oleh karena itu, reaksi SN1 akan lebih cepat jika kestabilan karbokation makin tinggi sehingga 3o > 2o, alil karbokation, benzil karbokation > 1o > -CH3.

Gugus Pergi
Seperti yang telah dibicarakan pada reaksi SN2 bahwa gugus pergi yang baik harus yang paling stabil, merupakan basa konjugasi dari asam kuat. Reaktivitas gugus pergi untuk reaksi SN1 sama dengan reaktivitas untuk SN2. Urutan reaktifitasnya adalah sebagai berikut:
TosO-  >  I-  >  Br-  >  Cl-  =  H2O


Paling reaktif                                      kurang reaktif
Nukleofilik
Nukleofilik sangat besar peranannya terhadap reaksi SN2, namun tidak demikian terhadap reaksi SN1. Sebagai contoh, reaksi antara 2-metil-2-propanol dengan HX terjadi dengan kecepatan yang sama baik menggunakan Cl, Br, atau I.
Pelarut
Efek pelarut terhadap reaksi SN1 adalah sejauh mana pelarut dapat menstabilkan intermediet karbokation. Molekul pelarut mengorientasikan dirinya di seputar kation sehingga muatan negatif akan berhadapan dengan muatan positif seubetratnya. Berikut ini diperlihatkan solvasi ion karbonium oleh H2O. Elektron-elektron pada atom oksigen menghadap muatan ion karbonium sehingga menstabilkan muatan positif.

Reaksi SN1 berlangsung lebih cepat dalam pelarut polar dibandingkan dengan pelarut nonpolar. Urutan reaktivitas reaksi 2-kloro-2-metilpropana dalam pelarut yang berbeda adalah sebagai berikut:

Air                    larutan etanol 80%              larutan etanol 40%                     etanol
                                     Paling reaktif       →       kurang reaktif
Reaksi 2-kloro-2-metilpropana dengan pelarut adalah sebagai berikut:
(CH3)3CCl  + ROH                (CH3)3COR  +  HCl
     B.     MEKANISME SN1
Marilah kita lihat mekanisme SN1 untuk reaksi t-butilklorida dengan H2O.
Tahap 1, Ionisasi (dalam urutan, yang paling lambat):

Tahap2, kombinasi
Tahap 3, pelepasan H+ pada pelarut-reaksi asam-basa
Tahap akhir dalam solvolisis dari suatu alkil halida adalah lepasnya sebuah proton oleh alkohol berproton atau eter. Reaksi ini adalah reaksi asam-basa dan sebetulnya bukan bagian dari mekanisme SN1. Jalan SN1 adalah reaksi dua tahap: (1) ionisasi dari alkil halida menghasilkan karbokation intermediat (2) penyatuan dari karbokation dengan nukleofil.
Jika reaksi SN2 terjadi pada karbon kiral, konfigurasi karbon menjadi berubah dalam hasil reaksi. Dalam reaksi SN1 pada karbon kiral dari alkil halida yang optis aktif, terjadi rasemisasi. Rasemisasi adalah perubahan dari sebuah enansiomer menjadi suatu campuran rasemik. Pengamatan dari tahap pertama reaksi ini memperlihatkan mengapa terjadi hal ini.
Ionisasi pada tahap 1, akan membentuk karbokation planar akiral. Masuknya sebuah nukelofil dapat terjadi dari kedua arah atom karbon yang bermuatan positif itu dan menghasilkan hasil akhir. Beberapa karbokation bereaksi untuk membentuk hasil (R) sedangkan karbokation bereaksi untuk membentuk hasil (S). Hasilnya adalah campuran (R) dan (S), suatu rasemik.

Energi dalam reaksi SN1
Pada gambar di bawah ini adalah gambaran energi untuk mekanisme SN1 dua tahap, yaitu: ionisasi disusul dengan penyatuan karbokation intermediet dengan sebuah nukleofil. Oleh karena ionisasi reaksinya lambat, energi dari keadaan transisi adalah titik yang tertinggi dalam diagram. Karbokation intermediat-energinya tinggi dan reaktif-ditunjukkan sebagai lekukan dalam diagram energi.

Reaksi dari alkil halida dalam reaksi SN1
Reaksi solvolisis dari metil halida dan alkil halida primer dan sekunder sangatlah lambat dibandingkan dengan solvolisis alkil halida tersier.
Kecepatan relatif dari solvilisis dalam H2O (air):
CH3Br          CH3CH2Br         (CH3)2CHBr            (CH3)3CBr
     1                        1                             12                       1.200.000
Perbedaan dalam kecepatan relatif dapat dipakai sebagai ciri dari stabilitas karbokation. Metil halida dan halida primer tidak mengalami tahap 1, tahap ionisasi dari halida sekunder sangat lambat.
Berdasarkan stabilitas karbokation maka reaktifitas relatif dari alkil halida dalam reaksi SN1 adalah:

Yang menarik adalah bahwa alkil dan benzil halida walaupun primer, tetapi mudah mengadakan reaksi solvolisis, hampir sama cepatnya dengan halida tersier. Bahkan dalam beberapa hal lebih cepat, karena adanya stabilitas karbokation. Alilik dan benzil halida dapat mengadakan ionisasi karena karbokationnya terionisasi secara stabil.

Sumber:
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Sukmariah,dkk.2010. Dasar Dasar Kimia Organik. Tangerang: Bina Rupa Aksara
Permasalahan:
Apakah yang menyebabkan Reaksi SN1 berlangsung dengan cepat, sedangkan reaksi SN2 berlangsung sangat lambat?
Mengapa Reaksi SN1 berlangsung lebih cepat dalam pelarut polar dibandingkan dengan pelarut nonpolar.



Terima Kasih, Semoga Bermanfaat J