MEKANISME REAKSI SUBSTITUSI NUKLEOFILIK SN1
Oleh karena reaksi SN1 dari alkil halida
tersier adalah dengan pelarut (misalnya air atau alkohol), maka reaksi ini
disebut reaksi solvolisis (dari kata
“solvent” dan kata Yunani lysis yang
berarti pembebasan-loosening atau pemecahan).
Reaksi alkil halida dengan jalan SN1 hanya
terjadi dalam keadaan nukleofil lemah karena nukleofil dengan sifat basa yang
lebih kuat akan menghilangkan reaksi yang dihasilkan adalah alkena. Nukleofil lemah
pun akan mengalami eliminasi.
A.
KARAKTERISTIK
REAKSI SN1
Reaksi SN1 berlawanan dengan reaksi SN2.
Reaksi SN1 menyukai substrat yang lebih rapat streik seperti (CH3)3CBr
dengan nukleofilik netral (H2O). Reaksi SN1 berlangsung dengan
cepat, sedangkan reaksi SN2 berlangsung sangat lambat. Urutan kecepatan
reaksi adalah sebagai berikut:
1 .
Kinetika
reaksi SN1
Kecepatan reaksi antara t-butil
klorida dengan H2O ternyata hanya bergantung pada konsentrasi
substratnya saja dan tidak oleh konsentrasi nukleofilik. Reaksi semacam ini
disebut reaksi orde satu.
Kecepatan
reaksi = kecepatan berkurangnya alkil halida
= k x [RX]
Berikut ini adalah mekanisme reaksi
SN1 dari 2-bromo-2-metil propana dengan H2O. Rate limiting step (Tahap yang paling
lambat), yaitu pembentukan karbokation.
Reaksi SN1 melalui
karbokation memiliki konsekuensi streokimia yang berbeda, dimana karbokation
mempunyai bentuk planar dan hibridisasi sp2.
Produk reaksinya adalah campuran rasemat yang tidak aktif optik. Sebagai contoh,
reaksi antara (R)-6-kloro-2,6-dimetiloktana dengan H2O/C2H5OH
menghasilkan campuran rasemat (40% retensi dan 60% inversi).
Berikut ini adalah gambaran
streokimia reaksi SN1 substrat yang khiral.
2 .
Faktor
yang menentukan reaksi SN1
reaksi substitusi pada SN1
juga dipengaruhi oleh pelarut, gugus pergi, substrat, dan sifat nukleofilik. Kecepatan
yang paling lambat (rate limiting step, SN1) dari reaksi ini adalah
pembentukan ion karbonium. Oleh karena itu, reaksi SN1 akan lebih
cepat jika kestabilan karbokation makin tinggi sehingga 3o > 2o,
alil karbokation, benzil karbokation > 1o > -CH3.
Gugus
Pergi
Seperti yang telah dibicarakan pada
reaksi SN2 bahwa gugus pergi yang baik harus yang paling stabil,
merupakan basa konjugasi dari asam kuat. Reaktivitas gugus pergi untuk reaksi SN1
sama dengan reaktivitas untuk SN2. Urutan reaktifitasnya adalah
sebagai berikut:
TosO- > I-
> Br- > Cl-
= H2O
Paling reaktif kurang reaktif
Nukleofilik
Nukleofilik sangat besar peranannya
terhadap reaksi SN2, namun tidak demikian terhadap reaksi SN1.
Sebagai contoh, reaksi antara 2-metil-2-propanol dengan HX terjadi dengan
kecepatan yang sama baik menggunakan Cl, Br, atau I.
Pelarut
Efek pelarut terhadap reaksi SN1
adalah sejauh mana pelarut dapat menstabilkan intermediet karbokation. Molekul pelarut
mengorientasikan dirinya di seputar kation sehingga muatan negatif akan
berhadapan dengan muatan positif seubetratnya. Berikut ini diperlihatkan
solvasi ion karbonium oleh H2O. Elektron-elektron pada atom oksigen
menghadap muatan ion karbonium sehingga menstabilkan muatan positif.
Reaksi SN1 berlangsung
lebih cepat dalam pelarut polar dibandingkan dengan pelarut nonpolar. Urutan reaktivitas
reaksi 2-kloro-2-metilpropana dalam pelarut yang berbeda adalah sebagai
berikut:
Air larutan etanol 80% larutan etanol 40% etanol
Paling reaktif → kurang reaktif
Reaksi 2-kloro-2-metilpropana
dengan pelarut adalah sebagai berikut:
B.
MEKANISME
SN1
Marilah kita lihat mekanisme SN1
untuk reaksi t-butilklorida dengan H2O.
Tahap 1, Ionisasi (dalam urutan,
yang paling lambat):
Tahap2, kombinasi
Tahap 3, pelepasan H+
pada pelarut-reaksi asam-basa
Tahap akhir dalam solvolisis dari
suatu alkil halida adalah lepasnya sebuah proton oleh alkohol berproton atau
eter. Reaksi ini adalah reaksi asam-basa dan sebetulnya bukan bagian dari
mekanisme SN1. Jalan SN1 adalah reaksi dua tahap: (1)
ionisasi dari alkil halida menghasilkan karbokation intermediat (2) penyatuan
dari karbokation dengan nukleofil.
Jika reaksi SN2 terjadi
pada karbon kiral, konfigurasi karbon menjadi berubah dalam hasil reaksi. Dalam
reaksi SN1 pada karbon kiral dari alkil halida yang optis aktif,
terjadi rasemisasi. Rasemisasi adalah
perubahan dari sebuah enansiomer menjadi suatu campuran rasemik. Pengamatan dari
tahap pertama reaksi ini memperlihatkan mengapa terjadi hal ini.
Ionisasi pada tahap 1, akan
membentuk karbokation planar akiral. Masuknya sebuah nukelofil dapat terjadi
dari kedua arah atom karbon yang bermuatan positif itu dan menghasilkan hasil
akhir. Beberapa karbokation bereaksi untuk membentuk hasil (R) sedangkan
karbokation bereaksi untuk membentuk hasil (S). Hasilnya adalah campuran (R)
dan (S), suatu rasemik.
Energi
dalam reaksi SN1
Pada gambar di bawah ini adalah
gambaran energi untuk mekanisme SN1 dua tahap, yaitu: ionisasi
disusul dengan penyatuan karbokation intermediet dengan sebuah nukleofil. Oleh karena
ionisasi reaksinya lambat, energi dari keadaan transisi adalah titik yang
tertinggi dalam diagram. Karbokation intermediat-energinya tinggi dan
reaktif-ditunjukkan sebagai lekukan dalam diagram energi.
Reaksi
dari alkil halida dalam reaksi SN1
Reaksi solvolisis dari metil halida
dan alkil halida primer dan sekunder sangatlah lambat dibandingkan dengan
solvolisis alkil halida tersier.
Kecepatan
relatif dari solvilisis dalam H2O (air):
CH3Br CH3CH2Br (CH3)2CHBr (CH3)3CBr
1 1 12 1.200.000
Perbedaan dalam kecepatan relatif
dapat dipakai sebagai ciri dari stabilitas karbokation. Metil halida dan halida
primer tidak mengalami tahap 1, tahap ionisasi dari halida sekunder sangat lambat.
Berdasarkan stabilitas karbokation
maka reaktifitas relatif dari alkil halida dalam reaksi SN1 adalah:
Yang menarik adalah bahwa alkil dan
benzil halida walaupun primer, tetapi mudah mengadakan reaksi solvolisis,
hampir sama cepatnya dengan halida tersier. Bahkan dalam beberapa hal lebih
cepat, karena adanya stabilitas karbokation. Alilik dan benzil halida dapat
mengadakan ionisasi karena karbokationnya terionisasi secara stabil.
Sumber:
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga
Sukmariah,dkk.2010. Dasar Dasar Kimia Organik. Tangerang:
Bina Rupa Aksara
Permasalahan:
Apakah yang menyebabkan Reaksi SN1 berlangsung
dengan cepat, sedangkan reaksi SN2 berlangsung
sangat lambat?
Mengapa Reaksi SN1
berlangsung lebih cepat dalam pelarut polar dibandingkan dengan pelarut
nonpolar.
Terima
Kasih, Semoga Bermanfaat J















Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
BalasHapusSaya Habib Wijaya dengan NIM RSA1C117007 akan menjawab permasalahan nomor 1
Menurut saya adalah sebalik nya, seperti yang telah dibahas pada pertemuan kelas sebelum nya, reaksi SN2 lah yang berlangsung secara cepat, karena pada reaksi pada SN2 berlangsung satu rahap dan memerlukan energi potensial yang tinggi, sedangkan pada SN1 reaksi berlangsung lambat karena melalui tiga tahapan.
Terimakasih,
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh
Assalamualaikum,baik saya widya aria ningsih (RRA1C117001),saya akan membantu menjawab permasalahan no2,karena pelarut polar itu sifatnya dapat menetralkan zat seca umum,jg dapat melarutkan gugus lepas dan juga bertindak sebagai nukleofilnya.semoga dapat membantu:)
BalasHapus